Materi Paparan Pondasi Konstruksi Sarang Laba-laba (KSLL) – 28 Mei 2015

ksll_box

Unduh materi paparan di sini

 

Advertisements

Prof. Saratri Wilonoyodho, Begawan Bidang Kependudukan dari Teknik Sipil UNNES

IMG_3260-web1

Universitas Negeri Semarang (Unnes) Kamis (21/5) bertambah satu Profesor. Yakni Prof Dr Ir Saratri Wilonoyodho dari Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik. Upacara pengukuhan dipimpin oleh Rektor Prof Dr Fathur Rokhman MHum di auditorium kampus Sekaran. Prof Fathur Rokhman saat memberi sambutan menyampaikan, Prof Dr Ir Saratri Wilonoyudho MSi ini merupakan Profesor ke-101 Unnes, sebagai Profesor Bidang Kependudukan dan Lingkungan. Prof Saratri Wilonoyodho saat pidato pengukuhan dengan tema ”Urbanisasi Berlebih: Menyongsong Pulau Jawa Menjadi Pulau Kota” menyampaikan, menurut beberapa ahli, persoalan yang menyertai pertumbuhan kota-kota di negara-negara berkembang merupakan kegagalan kebijakan industrialisasi modern di satu sisi dan kegagalan pembangunan pertanian di sisi lain (urban bias), sehingga urbanisasi semakin tidak terkendali. Jakarta misalnya kini telah “menyatu” dengan Depok, Tangerang, Bogor, Bekasi (“Jabodetabek”) dan membentuk sebuah “megapolitan”.Demikian pula Semarang dengan “Kedungsepur” (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, Purwodadi), atau Surabaya dengan “Gerbang kertasusila” (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), dan juga kota Bandung Raya.
Studi kasus di Kota Semarang misalnya, menunjukkan bahwa kota ini tengah mengalami pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Kota Semarang memiliki “hinterland” atau daerah belakang yang meliputi kawasan Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, dan Purwodadi), yang batas non-administratif tidak jelas secara kasat mata, sehingga menyatukan wilayah Semarang dengan kota-kota di sekitarnya sehingga membentuk suatu “megapolitan”. Megapolitan banyak membawa masalah diantaranya masalah lingkungan, lalu lintas, permukiman, sampai ke masalah-masalah sosial.

sumber : http://unnes.ac.id

Dongeng bencana longsor untuk Anak-anak Deliksari

Dongeng dengan menggunakan boneka tangan bukan sesuatu hal yang baru di dunia hiburan Indonesia. Namun tidak bagi anak – anak dukuh deliksari, kecamatan Sukorejo, Gunungpati, Semarang yang sangat antusias dengan datangnya kakak kakak dari Universitas Negeri Semarang dalam kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat Ini pada hari Minggu 3 Mei 2015 yang bertempat di Taman Kanak- Kanak RW IV. Mahasiswa dari Universitas Negeri Semarang ini menyalurkan ide ide kreativnya dengan menggunakan metode dongeng boneka tangan (Funny Hand Puppet Story Telling) sebagai media pengenalan bencana longsor kepada anak – anak, karena dukuh deliksari kecamatan sukorejo ini merupakan daerah lereng yang rawan bencana tanah longsor khususnya setiap musim penghujan, dengan luas daerah sekitar 1,2 hektar dan sebgaian penduduk bermata pencaharian sebagai swasta sekitar 90% dan pegawai negeri sekitar 10% ini terpaksa tinggal di daerah lereng tersebut, walaupun mereka sudah mengatahui risiko yang akan terjadi bahkan sudah berkali kali mengalami bencana longsor, akan tetapi mereka memilih untuk tetap tinggal pada daerah lereng tersebut dan tetap membangun kembali rumah dan segala infrastruktur yang ada jika bencana longsor terjadi. Oleh karena itu diperlukan sosialisai terhadap pencegahan maupun penanggulangan serta siap siaga bencana longsor. Akan tetapi kebanyakan upaya tersebut hanya melibatkan orang dewasa sehingga anak-anak belum memiliki pemahaman khusus mengenai lingkungan tempat tinggal mereka yang rawan longsor.

fhp1

Anak-anak perlu memiliki pemahaman mengenai bencana longsor untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana tersebut. Selain itu, mereka juga dapat memposisikan diri ketika bencana longsor terjadi. Tidak mudah memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai bencana longsor dengan metode sosialisasi seperti yang dilakukan pada orang dewasa. Mereka lebih tertarik dengan hal-hal yang yang menyenangkan dan baru. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode yang inovatif dan kreatif untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian mereka terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Salah satu metode yang digunakan adalah FHP (Funny Hand Puppet) Story Telling.

FHP (Funny Hand Puppet) Story Telling merupakan metode bercerita dengan menggunakan boneka tangan yang ditujukan kepada anak-anak. Seorang anak akan mulai mengekspresikan emosinya pada saat mendengarkan cerita baik senang ataupun sedih dan dapat merangsang untuk meningkatkan sikap aktif, serta memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak dengan lingkungan dan kenyataan. Melalui metode ini, sesungguhnya anak-anak tidak hanya memperoleh kesenangan atau hiburan saja, tetapi mendapatkan pendidikan yang jauh lebih luas.

fhp2

Kerja bakti membuat selokan Interlocking Precast Concrete di Deliksari

Minggu, 3 Mei 2015. Permasalahan yang dihadapi warga RWVI Dukuh Deliksari, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati Semarang adalah kondisi sistem drainase yang buruk. Bantuan dari pemerintah maupun swasta untuk penataan lingkungan pemukiman menjadi tidak ada artinya jika gerakan tanah terus terjadi di setiap musim penghujan tiba. Warga sendiripun harus mengeluarkan biaya rutin yang tidak sedikit untuk melakukan renovasi rumahnya yang dalam kondisi miring karena gerakan tanah. Sistem drainase itu berupa drainase permukaan yang harus kedap air karena berfungsi untuk mencegah aliran air meresap ke dalam lereng. Peningkatan kejenuhan air akan memicu terjadinya gerakan tanah pada lereng. Selain program teknis, upaya pengurangan risiko bencana sangat sulit berhasil tanpa disertai program sosial yang menitik beratkan pada upaya pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan sifat kegotongroyongan warga yang masih kental.

Pelaksanaan program terdiri dari 3 (tiga) tahap yakni tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Keterlibatan warga dalam tiap tahap program dalam bentuk pertemuan tokoh masyarakat dan kerja bakti dalam pembuatan prototipe selokan beton pracetak.

Pelibatan warga dalam pelaksanaan program ditujukan agar warga dapat menekan biaya pembuatan selokan beton pracetak dengan tenaga gotong royong. Pengalaman warga tinggal di daerah rawan longsor yang hampir 30 tahun merupakan bahan diskusi yang menarik dalam pembuatan materi pelatihan. Selain itu warga nantinya harus dapat merawat sendiri saluran jika terjadi gerakan tanah yang membuat selokan bergeser.

Kondisi yang diharapkan warga tidak lagi menggunakan material-material yang getas pada kondisi tanah yang rentan bergerak seperti di daerah mereka. Material getas ini kurang awet, mudah terjadi keretakan yang dapat menyebabkan air hujan meresap kedalam tanah dan dapat memicu terjadinya gerakkan tanah. Beberapa material selokan yang bersifat getas yang sering digunakan warga adalah material pasangan batu kali, buis beton yang tidak ditulangi, dan pasangan bata.

Dokumentasi Tahap Persiapan Bulan April 2015DSCN2840EDSC_0551EDSC_0435EDSC_0553EDSCN2951E Continue reading