Self-Directed Learning (SDL) dalam Mata Kuliah Rekayasa Pondasi (Bagian 1)

Self-Directed Learning (SDL) adalah proses belajar yang dilakukan atas inisiatif individu mahasiswa sendiri. Dalam hal ini, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap pengalaman belajar yang telah dijalani, dilakukan semuanya oleh individu yang bersangkutan. Sementara dosen hanya bertindak sebagai fasilitator, yang memberi arahan, bimbingan, dan konfirmasi terhadap kemajuan belajar yang telah dilakukan individu mahasiswa tersebut.

Metode belajar ini bermanfaat untuk menyadarkan dan memberdayakan mahasiswa, bahwa belajar adalah tanggungjawab mereka sendiri. Dengan kata lain, individu mahasiswa didorong untuk bertanggungjawab terhadap semua fikiran dan tindakan yang dilakukannya. Metode pembelajaran SDL dapat diterapkan apabila asumsi berikut sudah terpenuhi, yaitu sebagai orang dewasa, kemampuan mahasiswa semestinya bergeser dari orang yang tergantung pada orang lain menjadi individu yang mampu belajar mandiri. Prinsip yang digunakan di dalam SDL adalah: (a) Pengalaman merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat; (b) Kesiapan belajar merupakan tahap awal menjadi pembelajar mandiri; dan (c) Orang dewasa lebih tertarik belajar dari permasalahan daripada dari isi matakuliah. Pengakuan, penghargaan, dan dukungan terhadap proses belajar orang dewasa perlu diciptakan dalam lingkungan belajar. Dalam hal ini, dosen dan mahasiswa harus memiliki semangat yang saling melengkapi dalam melakukan pencarian pengetahuan.

Salah satu metode pembelajaran SCL (Student Centered Learning) yang dapat dipilih untuk pelaksanaan pembelajaran mata kuliah Rekayasa Pondasi di Prodi S1 Teknik Sipil UNNES adalah Self-Directed Learning (SDL).  Metode ini menarik karena mahasiswa belajar sendiri mendesain pondasi dalam sebuah model misalnya desain pondasi tiang pancang jenis floating pile. Namun tentunya sebelum mendesain model mereka sudah mempelajari teori  bagaimana perilaku tiang pancang pada tanah soft clay (lempung lunak) kemudian mencoba menghitung kapasitas dukung tiang tunggalnya dan dilanjutkan kapasitas dukung tiang groupnya.

Mereka bisa mempelajari sendiri apakah beban yang bekerja pada tiang group sesuai dengan hasil perhitungan dan berapa deformasi yang terjadi dengan peralatan permodelan yang sederhana. Upaya memodifikasi alat loading test untuk model tiang di lapangan sedang dilakukan oleh mahasiswa yakni Rohman Asnanto (Sipil’13), Fran Hanung Wibowo (Sipil’13) dan Roikhatun (Sipil’13). Semoga bermanfaat dan menginspirasi mahasiswa lain dalam memahami desain pondasi di lapangan.

20160315_135839[1]E20160315_134143[1]E20160315_134246[1]E20160315_134712[1]E20160315_140431[1]E

Daftar Pustaka : Tim BELMAWA-DIKTI , 2014, Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi (K-DIKTI), Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s